Jangan mudah mengaku sibuk

a Nice Posting :) yang direpost ulang oleh mas_itw di milis MBA ITB

Jangan Mudah Mengaku Sibuk
by Meralda Nindyasti

“Maaf, saya terlambat memberi kabar. Ada kesibukan yang teramat nyata
yang harus saya jalani di kampus. Sekali lagi.. maaf, saya baru
sempat. ” kurang lebih SMS itulah yang kubaca dari salah seorang teman
SMAku dulu.

Kata-kata yang terangkai dalam SMS itu cukup membuatku geli. Kalimat
itu cukup santun, esensi dari kalimat itu pun tak sekali ini aku
mendengar ataupun membacanya. Bukan lagi dari 1 atau 2 orang, lebih
bahkan…Hmm, dan mungkin aku pun pernah berucap seperti itu, seingatku
lebih dari sekali juga..

Ada hal yang menarik, cukup menginspirasi. Kalimat itu mengajakku
merenung. Ya, aku sempat tak habis pikir.. pernah diri ini mengaku
sibuk, padahal statusku masih mahasiswa. Tentu ucapanku ini belum
bersesuaian. Bahkan aku menghakimi diri sendiri karena berucap itu.
Kenapa? Karena dalam paradigmaku, kalau saat mahasiswa saja sudah
berani mengaku sibuk, maka bagaimana jika sudah bekerja dan berumah
tangga?

Berbicara masalah berkeluarga, maka ada dua kosakata yang menjadi
kunci, yaitu waktu dan tanggung jawab. Kalau seseorang sudah
berkeluarga, bertambahlah amanahnya. Bagi seorang laki-laki, ada
amanah untuk menjemput rejeki, menjadi ayah bagi anak-anaknya, menjadi
suami bagi isterinya, menjalani profesi pekerjaannya, menjadi anak
bagi ayah ibunya, dan jika ia adalah sosok orang yang andil dan
berpengaruh terhadap lingkungannya, maka amanah-amanah itu belum masuk
hitungan. Ya, begitu pula dengan wanita.

Sekali lagi, aku sampai tak habis pikir, masih berstatus mahasiswa
saja sudah berani mengaku sibuk. Sekalipun bukan mahasiswa biasa,
dalam arti tak hanya belajar akademik tapi juga non akademik. Tapi itu
sungguh bukan alasan bagiku untuk mengaku sibuk. Waktu ku sebagai
mahasiswa dengan waktu mereka yang sudah berkeluarga, pun dengan waktu
para pemimpin bangsa tetap sama. Sehari 24 jam. Padahal tanggungjawab
mereka tentu melebihi diriku.

Jangan mudah berkata sibuk. Karena Rasulullah tidak pernah mengajarkan
kita seperti itu. Aku masih bisa membayangkan semulia apa sosok
beliau. Dengan berbagai macam amanah dan tanggungjawab yang ada di
pundak beliau, tetap, tetap peduli dan selalu melayani. Beliau,
seorang pengelola bisnis yang diinvestasikan bunda Khadijah. Beliau
lah enterpreneur dengan sifat nabawi:shiddiQ (jujur), amanah
(capable), fathanah (smart) dan tabligh (informatif) . Beliau, seorang
panglima perang, selama 10 tahun di Madinah ada sekitar 300-an
detasemen yang beliau bentuk dan berangkatkan. Beliaulah pemimpin
negara yang saat menjadi imam shalat, masih sempat bertanya “Di mana
si Fulan? Mengapa ia tidak nampak? “. Namun, tetap.beliau begitu tak
lalai dalam mengemban amanahnya yang lain, sebagai suami, ayah, teman,
dan tetangga. Dan, bandingkan dengan kita, sungguh.. belum seberapa.

“Maaf, saya sibuk “. Ya, tiga kata yang bisa membuat jiwa-jiwa yang
mengharap uluran tangan kita menjadi sungkan meminta bantuan kita.
Tiga kata yang mampu membuat saudara yang semula ingin berbagi duka
dengan kita, kini menjadi enggan karena khawatir makin menyita waktu
kita. Inagtkah? Dalam tiap waktu kita, ada hak-hak saudara kita. Dan
bisa jadi 3 kata itu menjadi alasan kita untuk lalai memenuhi hak
mereka. Tiga kata yang mungkin sering menjadi alasan untuk kita lupa
melantunkan bait-bait doa untuk saudara-saudara kita.

Pff, tidak baik jika aku mengeluh dengan mengaku sibuk dan tidak baik
jika kepedulian ini merapuh dengan mengaku sibuk. Karena itu, jangan
mudah mengaku sibuk, karena masih banyak sisi kehidupan yang belum
terjamah. Masih banyak tantangan ummat yang belum terselesaikan.
Kerena Islam membutuhkan kontribusi kita lebih besar. Ya, menjadi
sebaik-baik hamba yang banyak memberi manfaat. Ya, Totalitas dalam
peduli dan melayani.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • del.icio.us
  • Netvouz
  • DZone
  • ThisNext
  • MisterWong
  • Wists


Thank you for reading this post. You can now Read Comments (3) or Leave A Trackback.

Post Info

This entry was posted on Wednesday, December 12th, 2007 and is filed under Daily Blog.

Tagged with:

You can follow any responses to this entry through the Comments Feed. You can Leave A Comment, or A Trackback.



Previous Post: How clever you are? »
Next Post: Panduan hidup berpasangan »

Read More

Related Reading:

3 Responses to “Jangan mudah mengaku sibuk

  • 1
    ricky himself
    December 12th, 2007 15:55 GMT

    My comment
    seperti cerminan curhat pribadiku jg

    terlebih, gw ngerasain ini sejak SMA.
    Saat gw mesti Les ini itu, akhirnya maen ama temen pun jarang. Untungnya kegiatan ini tidak terlalu mengganggu kehidupan sosial gw dengan temen2 deket dan cewe gw waktu itu. Tapi sempet sebel juga kalo denger ‘Si Ricky mah sibuk wae’

    Kesibukan terkadang menjadi Dilemma. Siapa sih yang meminta sesibuk itu?? gw ga pernah meminta jadwal sepadat itu. Tapi memang semuanya terjadi begitu saja. Untungnya sejak kejadian SMA itu, gw kalo ditanya temen ga pernah bilang sibuk. Mungkin gw cuma bilang bahwa gw lagi ga bisa saja. Setidaknya gw berusaha ga ngecewain mereka untuk ngajak gw kesekian kalinya. Seperti Futsal misalnya… walaupun gw ga bisa maen bola… tapi gw lebih menghargai ajakan teman2 :) (thx frenz, gw jadi ketagihan nih… hayu ah maen lagi… hayang asal najong deui :p )

    Hal lain yang menjadi dilemma, gw jadi terkadang ragu untuk ngedeketin cewe. Kebayang dong kalo gw lagi janjian hari Sabtu/Minggu trus gw mendadak ga bisa. Gw jadi ngerasa serba salah. Hal ini benar2 mengganggu. Temen gw seorang lulusan Bahasa Inggris UPI sampai ragu untuk mengajar hari Sabtu-Minggu. Temennya pernah berkata, “gmana lu mau dapat pacar kalo lu ngajar juga di weekend.” Lucu juga kalo ga bisa menyempatkan waktu untuk social life lu karena yang namanya ’sibuk’. Entah itu gawean, entah itu kerjaan, atau mungkin kegiatan lain.

    Gw cuma bisa saling mengingatkan.. semakin bisa mengingatkan kawan-kawan berarti mengingatkan diri sendiri. Gw selalu ingin banget memegang teguh prinsip “Family first” seperti yang diucapkan Adam Sandler di Film Click tuk terakhir kalinya. Dan gw berharap hal itu tercapai juga… “Save your family, Save your life”

  • 2
    Meralda NindyasTi
    December 21st, 2007 22:10 GMT

    Subhanallah..
    Keren, keren..

    Pasti perjuangan bangeth ya untuk tidak berkata
    “maaf,saya sibuk”

    Salut, salut..

    Btw,
    “semakin bisa mengingatkan kawan-kawan berarti mengingatkan diri sendiri.”

    kata2 ini menginspiRasi..
    Hebat!
    jazakallah ya,,,

  • 3
    emilinda Djalil
    December 29th, 2007 14:27 GMT

    “jgn mudah mengaku sibuk”..waaah dalem bnget..bis baca blogx aq jd sadar klo slama ini aq sring bgt make kalimat sakti ” sry aq s lg sbuk”……

    bner bgt RASULLAH kudu jd inspiration sejati dalam hidup kita…..

    jd malu ama diri sendiri..;-)


Subscribe without commenting


Leave a Reply

Note: Any comments are permitted only because the site owner is letting you post, and any comments could be removed for any reason at the absolute discretion of the site owner.