Kesuksesan?

dari milis resonansi, tulisan dr Hendrawan Nadesul. yang telah di repost oleh Imam di milis MBA ITB 37
semoga bermanfaat

Untuk menjadi kaya, semua orang bisa instan melakoni. Namun, tidak siapa aja siap menjadi orang susah.

Orang miskin baru kian banyak. Penganggur baru menambah bengkak angka kemiskinan. Bisa jadi, itu sebabnya, selain angka bunuh diri tinggi, tiga dari sepuluh orang Indonesia tercatat terganggu jiwanya.

Tidak siap hidup susah berisiko sakit jiwa. Ada cara sederhana menekan risiko sakit jiwa. Sejak kecil anak dibuat tahan banting. Ketahanan jiwa anak harus dibangun. Untuk itu, jiwa butuh “imunisasi”.

Menerima kenyataan

Sejak kecil anak diajar lebih membumi. Yang gagal kaya rela menerima kenyataan. Yang belum pernah hidup susah diajar prihatin sedari kecil.
Kendati kecukupan, tidak semua yang anak minta perlu diberi. Anak dilatih
merasakan kegagalan.

Tugas orangtua dan guru mengajak anak berempati pada kesusahan orang lain.
Hidup tak luput dari berbagai stresor. Tak semua stresor jelek. Supaya jiwa
tahan banting, stresor dibutuhkan. Anak perlu mengalami seperti apa tekanan
hidup, konflik, kegagalan, rasa kecewa, dan krisis dalam hidup. Seperti
vaksin, biasakan anak memikul aneka stresor yang bikin jiwanya kebal
seandainya kelak hidupnya susah.

Tanpa dilatih hidup susah, anak yang terbiasa hidup berkecukupan tak tahan
banting. Lebih banyak orang sukses lahir bukan dari keluarga kecukupan.
Hidup prihatin membuat jiwa tegar bertahan melawan kesusahan. Hidup susah
membangun mimpi ingin lepas dari rasa kapok menjadi orang susah. Demi
mengubah mimpi jadi kenyataan, spirit kerja keras pun dipecut.

Einstein percaya, untuk sukses diperlukan lima persen otak, selebihnya
keringat (perspirasi) . Spirit kerja keras menjadi milik orang yang tak
pernah puas pada prestasi yang diraih. Seperti bangsa Troya dulu,
pembangunan Jepang dan Korea lebih pesat ketimbang bangsa sepantar karena
memiliki “virus” n-Ach (need-for-Achieveme nt) yang tinggi.

“Virus” n-Ach bisa ditularkan kepada anak lewat asuhan dan pendidikan.
Bacaan memuat nilai kehidupan, termasuk mendongeng, pendidikan berdisiplin,
dan keteladanan orang lebih tua. Itu modul-modul kehidupan agar anak tahu
juga hidup susah.

Jiwa getas

Kebiasaan meloloh anak dengan kelimpahruahan tidak melatih anak merasakan
gagal, kecewa, rasa ditekan, rasa konflik, atau rasa krisis. Tanpa tempaan
stresor, jiwa getas. Jika jiwa getas, orang rentan stres. Bila tak terlatih
hidup berdamai dengan stres, hidup berisiko gagal andai harus jatuh miskin.

Tak ada sekolah yang mengajarkan menjadi orang miskin. Tak pula ada kursus
memampukan anak terbiasa hidup berdamai dengan stres. Yang bisa kita lakukan
adalah mengasuh dan mendidik anak tahan banting. Mandat itu harus ada di
pundak setiap orangtua.

Tidak semua anak kecukupan pernah mengalami stresor. Dalam pendidikan
modern, anak sengaja dihadapkan pada stresor buatan. Ada pelatihan
diam-diam, dalam suasana berkemah atau outbound diciptakan situasi krisis.
Mobil sengaja dibuat mogok di tengah hutan pada malam hari, atau kehabisan
makanan selagi camping.

Dihadang stresor buatan, anak dilatih bagaimana bereaksi, beradaptasi, agar
mampu lolos dari rasa panik, rasa takut, rasa tidak enak berada dalam
situasi darurat. Ini bagian dari upaya membuat kebal jiwa anak. Bila jiwa
tak tahan banting, sontekan stres kecil mungkin diatasi dengan bunuh diri.
Kini semakin banyak kasus bunuh
diri hanya karena alasan enteng. Gara-gara ditinggal pacar, tidak naik
kelas, sebab jiwa tak terlatih memikulnya. Maka jiwa perlu digembleng.

Kerja keras

Menggembleng berarti menunjukkan rasa arah hidup prihatin, selain
berdisiplin. Hidup berdisiplin berarti menjunjung tinggi kebenaran, memikul
tanggung jawab, kerja keras, serta mampu menunda kepuasan.

Menunda kepuasan bentuk keunggulan sebuah bangsa. Bangsa unggul memiliki
“virus” n-Ach tinggi. Anak yang diasuh dan dididik dengan nilai-nilai
“virus” n-Ach, menyimpan bekal sukses. Itu kelihatan, misalnya, dari cara
makan. Anak dengan n-Ach tinggi menyisihkan yang enak dimakan belakangan,
yang tidak enak dimakan dulu. Tugas berat dikerjakan dulu, yang enteng
belakangan. Bersakit-sakit dulu bersenang-senang kemudian menjadi kredo
bangsa yang sukses.

Agar tahu hidup susah, anak diajak memahami bahasa hidup bukan uang semata.
Tak semua semerbak kehidupan bisa dipetik dengan uang. Kebahagiaan tertinggi
hanya terpetik setelah orang mampu merasa bersyukur meski cuma menjadi orang
biasa (mengutip Gede Prama).

Sukses hidup sejati tak mungkin terpetik instan. Jiwa potong kompas, ingin
lekas kaya, tumbuh dari budaya instan. Bukan rasa arah yang benar saja yang
perlu ditanamkan saat membesarkan anak, tetapi harus benar pula menempuhnya
di mata Tuhan.

Anak disiapkan menjadi insan linuwih (terinternalisasi penuh superegonya)
dengan cara mengempiskan egonya sekecil mungkin. Rekayasa sosial (social
engineering) diperlukan dengan menyuntikkan “vaksin” hidup prihatin. Perlu
pula penyubur superego agar kendati hidup susah masih merasa bahagia.

Hanya bila bibit linuwih dipupuk sejak kecil, sekiranya hidup susah tak
tergoda memilih serong. Kendati tak banyak harta, uang, atau kuasa, ke arah
mana pun hidup memandang, merasa tetap “kaya”. Mampu legawa, bersyukur, dan
merasa berbahagia sudah pula meraih Oscar kehidupan, kendati mungkin hanya
menjadi orang biasa.

Sumber: Sekolah Hidup Susah
oleh Handrawan Nadesul, Dokter, Penulis Buku, Pengasuh Rubrik Kesehatan

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • del.icio.us
  • Netvouz
  • DZone
  • ThisNext
  • MisterWong
  • Wists


Thank you for reading this post. You can now Leave A Comment (0) or Leave A Trackback.

Post Info

This entry was posted on Sunday, October 28th, 2007 and is filed under Positive Class.

Tagged with: No Tags

You can follow any responses to this entry through the Comments Feed. You can Leave A Comment, or A Trackback.



Previous Post: Differences between man and woman »
Next Post: Jokes about Marketing »

Read More

Related Reading:


Subscribe without commenting


Leave a Reply

Note: Any comments are permitted only because the site owner is letting you post, and any comments could be removed for any reason at the absolute discretion of the site owner.